13.5.13

Taman

Sebuah gubug di tengah Sawah Desa Lebakbarang, 
rumah dikelilingi taman alami
Sampai tempat kerja pagi ini, dapat kabar kalau survey pasar desa tidak jadi dilaksanakan hari ini. Pak Sardana menerima pemberitahuan tersebut dari Pak Budiono melalui telepon. Ini membawa keuntungan, berarti saya bisa mengatur waktu pulang kerja. Masih dipikirkan dan belum ketemu solusinya : dengan waktu tempuh dari rumah ke kantor sekitar satu jam, sebelum jum’atan harus jemput anak di sekolah. Tanpa tergantung waktu selesainya survey, kemungkinan acara jemput anak dapat terlaksana.

Pak bos hari itu tidak bisa ke ruang kerjanya karena masih sakit. Acara senam belum juga dimulai, sementara panas matahari makin bertambah. Setengan jam lagi ada rapat di aula. Okelah, kita senam dulu. Walaupun saya kesulitan untuk menyesuaikan gerakan dari instrukturnya. Kurang dari setengah jam berrlalu, kaki sudah mulai pegel-pegel juga. Sambil senam masih kepikiran rapat hari Rabu kemarin.

Mengundang kepala desa, organisasi masyarakat, usahawan di tingkat kecamatan pak Bos bermaksud untuk membangun taman di sepanjang pinggir jalan masuk kota kecamatan. Dari awal saya kurang optimis untuk pembangunan taman di pinggir jalan. Keberlanjutan dan pemeliharaan taman menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi saya, mengaca beberapa tempat yang sudah pernah membangun taman di pingggir jalan apalagi masalah pendanaan yang harus ditanggung masing-masing instansi. Belum lagi, saya pikir lahan yang akan dipakai terlalu sempit. Badan jalan akan semakin sesak karena bahu jalan dijadikan taman. Dalam rapat tersebut, ketika saya diperintahkan untuk membentuk tim pelaksana pembangunan taman saya sampaikan pemikiran saya tersebut.

Maaf bos, saya terpaksa menyampaikan dalam forum tersebut, karena peserta rapat diminat kesepakatan. Saya rasakan kesepakatan itu masih dengan setengah hati. Ya, setengah hati.. ketika bapak menanyakan kesepakatan tersebut sampai diulang dua kali. Sebelumnya, juga ada pesimisme yang terungkap halus yang saya rasakan dari pertanyaan dari wakil ormas. Terasa lega setelah saya menyampaikan pemikiran itu, selama rapat pikiran terpendam dan sebenarnya tidak akan saya omongkan. Karena ada kesempatan, sekalian saya ungkapkan. Mungkin bagi sebagian orang menganggap tindakan saya kurang tepat.

Bukan bermaksud tidak setuju untuk membuat kota menjadi lebih indah, tapi saya coba mengartikan taman tersebut lebih luas diartikan. Untuk membuat lebih indah saya pikir tidak hanya pinggir jalan dibuat taman, tapi satu desa kita buat lebih indah. Jadikan seluruh wilayah ini ibarat taman : hijau, bersih, rapi tapi tetap alami. Taman dengan kontruksi/ bangunan di pinggir jalan menurut saya justru akan mengganggu lalu lintas. Dari yang arti taman dalam arti sempit dan berjangka pendek ini, saya berpikir kenapa tidak diperluas dan bila mungkin tanaman budaya bersih dalam masyarakatnya. Karena membuat satu desa menjadi sebuah taman alami dibutuhkan peran serta masyarakatnya.
Tapi pendapat yang berbeda tersebut justru membuat peserta rapat menunjuk saya untuk mengetuai tim pembuatan taman.

Setelah senam selesai, saya akan jalan-jalan sepanjang jalan masuk kota kecamatan, sambil dokumentasi dan identifikassi kemungkinan pembuatan taman pinggir jalan.

Jembatan Kaliwadas,
pertanda kita segera masuk wilayah kota
Dari jalan-jalan tersebut, saya menyimpulkan bahwa wilayah ini adalah sebenarnya adalah sebuah taman besar. Keadaan alam yang masih bagus ini, kalau dirapikan lagi akan menjadi sebuah taman alamiah. Saya berjalan di taman besar yang kurang terawat saat ini, jadi tidak usah menambahkan taman buatan. Sudah ada taman, tinggal perawatannya yang perlu kita kerjakan.

Oh ya, saya juga sempat usul untuk mengadakan kerja bhakti atau “gugur gunung” untuk melakukan kebersihan/ perapian sepanjang jalan tersebut. Sayang saat itu, belum dapat tanggapan dari pak bos. Dari hasil jalan-jalan ini saya semakin yakin kalau “gugur gunung” tersebut dilaksanakan, akan mengembalikan pesona taman alam di sapanjang jalan ini. Dengan melibatkan warga, diharapkan rasa tanggung jawab menjaga taman atau lebih tepatnya lingkungan akan mulai tertanam seluruh warga.  

Ada oleh-oleh lain yang bisa saya bawa pulang dari perjalanan ini, anggrek. Saya mendapatkan anggrek liar tersebut menepel pada batang pohon kopi di pinggir jalan. Ketika akan mengambil gambar melalui kamera, saya sekilas melihat bunga putih yang ternyata anggrek, maka saya adopsi anggrek liar itu. Anggrek tersebut akan saya tambahkan di taman depan rumahku. Kalau di tempat asalnya menumpang pada tanaman kopi, di taman rumah menempel di pohon kamboja.

Tak terasa sampai kantor sudah lewat jamm 11, harus segera turun gunung. Jemput anak dan mengantar penghuni baru taman depan ke rumah barunya.


Lebakbarang, 10 Mei 2013
Taman depan rumahku

No comments:

Post a Comment