Sebuah gubug di tengah Sawah Desa Lebakbarang,
rumah dikelilingi taman alami
|
Sampai tempat kerja pagi ini, dapat kabar kalau survey pasar desa tidak jadi dilaksanakan hari ini. Pak Sardana menerima pemberitahuan tersebut dari Pak Budiono melalui telepon. Ini membawa keuntungan, berarti saya bisa mengatur waktu pulang kerja. Masih dipikirkan dan belum ketemu solusinya : dengan waktu tempuh dari rumah ke kantor sekitar satu jam, sebelum jum’atan harus jemput anak di sekolah. Tanpa tergantung waktu selesainya survey, kemungkinan acara jemput anak dapat terlaksana.
Pak bos hari itu tidak bisa ke ruang kerjanya karena masih sakit. Acara senam belum juga dimulai, sementara panas matahari makin bertambah. Setengan jam lagi ada rapat di aula. Okelah, kita senam dulu. Walaupun saya kesulitan untuk menyesuaikan gerakan dari instrukturnya. Kurang dari setengah jam berrlalu, kaki sudah mulai pegel-pegel juga. Sambil senam masih kepikiran rapat hari Rabu kemarin.
Mengundang kepala desa, organisasi masyarakat,
usahawan di tingkat kecamatan pak Bos bermaksud untuk membangun taman di sepanjang
pinggir jalan masuk kota kecamatan. Dari awal saya kurang optimis untuk
pembangunan taman di pinggir jalan. Keberlanjutan dan pemeliharaan taman
menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi saya, mengaca beberapa tempat yang sudah
pernah membangun taman di pingggir jalan apalagi masalah pendanaan yang harus
ditanggung masing-masing instansi. Belum lagi, saya pikir lahan yang akan
dipakai terlalu sempit. Badan jalan akan semakin sesak karena bahu jalan dijadikan
taman. Dalam rapat tersebut, ketika saya diperintahkan untuk membentuk tim
pelaksana pembangunan taman saya sampaikan pemikiran saya tersebut.
Maaf bos, saya terpaksa menyampaikan dalam forum
tersebut, karena peserta rapat diminat kesepakatan. Saya rasakan kesepakatan
itu masih dengan setengah hati. Ya, setengah hati.. ketika bapak menanyakan
kesepakatan tersebut sampai diulang dua kali. Sebelumnya, juga ada pesimisme
yang terungkap halus yang saya rasakan dari pertanyaan dari wakil ormas. Terasa
lega setelah saya menyampaikan pemikiran itu, selama rapat pikiran terpendam
dan sebenarnya tidak akan saya omongkan. Karena ada kesempatan, sekalian saya
ungkapkan. Mungkin bagi sebagian orang menganggap tindakan saya kurang tepat.
Bukan bermaksud tidak setuju untuk membuat kota
menjadi lebih indah, tapi saya coba mengartikan taman tersebut lebih luas
diartikan. Untuk membuat lebih indah saya pikir tidak hanya pinggir jalan
dibuat taman, tapi satu desa kita buat lebih indah. Jadikan seluruh wilayah ini
ibarat taman : hijau, bersih, rapi tapi tetap alami. Taman dengan kontruksi/
bangunan di pinggir jalan menurut saya justru akan mengganggu lalu lintas. Dari
yang arti taman dalam arti sempit dan berjangka pendek ini, saya berpikir
kenapa tidak diperluas dan bila mungkin tanaman budaya bersih dalam
masyarakatnya. Karena membuat satu desa menjadi sebuah taman alami dibutuhkan
peran serta masyarakatnya.
Tapi pendapat yang berbeda tersebut justru membuat
peserta rapat menunjuk saya untuk mengetuai tim pembuatan taman.
Setelah senam selesai, saya akan jalan-jalan
sepanjang jalan masuk kota kecamatan, sambil dokumentasi dan identifikassi
kemungkinan pembuatan taman pinggir jalan.
| Jembatan Kaliwadas, pertanda kita segera masuk wilayah kota |
Oh ya, saya juga sempat usul untuk mengadakan kerja
bhakti atau “gugur gunung” untuk melakukan kebersihan/ perapian sepanjang jalan
tersebut. Sayang saat itu, belum dapat tanggapan dari pak bos. Dari hasil
jalan-jalan ini saya semakin yakin kalau “gugur gunung” tersebut dilaksanakan,
akan mengembalikan pesona taman alam di sapanjang jalan ini. Dengan melibatkan
warga, diharapkan rasa tanggung jawab menjaga taman atau lebih tepatnya
lingkungan akan mulai tertanam seluruh warga.
Ada oleh-oleh lain yang bisa saya bawa pulang dari
perjalanan ini, anggrek. Saya mendapatkan anggrek liar tersebut menepel pada
batang pohon kopi di pinggir jalan. Ketika akan mengambil gambar melalui
kamera, saya sekilas melihat bunga putih yang ternyata anggrek, maka saya
adopsi anggrek liar itu. Anggrek tersebut akan saya tambahkan di taman depan
rumahku. Kalau di tempat asalnya menumpang pada tanaman kopi, di taman rumah
menempel di pohon kamboja.
Tak terasa sampai kantor sudah lewat jamm 11, harus
segera turun gunung. Jemput anak dan mengantar penghuni baru taman depan ke
rumah barunya.
No comments:
Post a Comment