20.9.13

Curug Cinde


Desa Depok, desa yang kecil dengan pemukiman padat

Salah satu daftar tempat yang harus saya datangai di Lebakbarang adalah Curug Cinde. Keinginan yang tersimpan lebih dari empat tahun, dan beberapa batal untuk mewujudkannya. Keinginan itu akhirnya kesampaian juga. Kamis, 29 Agustus 2013 menjadi waktu yang disepakati untuk melakukan perjalanan ke Curug Cinde. Bersama beberapa teman dari Bagian Tata Pemerintahan yang kebetulan melakukan pendataan rupa bumi.

Berkumpul di Kecamatan Lebakbarang, perjalanan bermotor dilanjutkan ke Desa Depok. Dari sini perjlanan dilajutkan dengan jalan kaki. Menyusuri pinggir perkampungan kemudian masuk kebun. Lepas dari persawahan dan kebun warga, perjalanan menyusri hutan.

Di perjalanan kami juga menemui satu air terjun. Masyarakat menamakannya Curug Silengsar. Air terjun ini dijadikan sumber mata air bagi warga desa. Terdiri dari dua air terjun yang bertingkat.
Air terjun Silengsar,
warna biru di tengah merupakan bak air
yang mengalirkan air ke rumah rumah warga
Hutan selam perjalanan merupakan hutan heterogen. Mulai hutan pinus sampai hutan dengan aneka tanaman. Di sela sela hutan warga menanam pohon kopi. Perjalanan naik turun, cukup menguras tenaga. Sempat beberapa kali istirahat, mengistirahatkan kaki, mengatur nafas dan sekaligus membasahi tenggorokan. 

Beberapa tanjakan cukup menguras tenaga karena cukup panjang dan tinggi. Di beberapa tempat juga terpaksa menerobos semak yang rapat, di samping jalan jurang yang dalam. Perlu kehati-hatian agar tak terjadi kecelakaan.

Menyusur jalan setpak di tengah hutan 
Hampir dua jam berjalan, hawa dingin mulai terasa. Udara terasa semakin lembab. Suara air gerumuh mulai terdengar. Harapan akan sampai tujuan membesar, lelah semakin terasa. Akhirnya di sebelah, pandangan ke arah serong kanan kulihat air terjun. 
Curug Cinde, tujuan perjalanan
Lelah tubuh ini langsung sirna, terbayar rasa gembira bisa sampai di tempat ini. Di antara tebing batu, air yang begitu deras meluncur dari ketinggian kurang lebih 30 meter. Informasi dari warga desa, air terjun ini ada dua tingkat walaupun dari bawah hanya terlihat satu air terjun.

Tempias air terbawa angin membasahi tubuh. Kesegaran tubuh segera kembali. Lelah perjalanan sudah tak teringat lagi, percik air menghapus segala lelah raga ini.
Curug Cinde, keindahan alam yang tersembunyi
Sayang keindahan alam ini dirusak oleh tangan tangan jahil. Coretan dari cat semprot, terlihat baru. Kemungkinan sehari sebelum saya kesini tempat ini dikunjungi orang yang meninggalkan coretan yang merusak keindahan alam ini.
vandalis, merusak keindahan alam
Perjalanan pulang sepanjang kurang lebih 2,5 km terasa lebih ringan dan lebih cepat. Jam 5 sore kami tiba di perkampungan Desa Depok. Kami sempatkan mampir di Watu Lumpang, salah satu peninggalan kuno yang ada di Desa ini

No comments:

Post a Comment