Vespa Sprint 1976 metalic silver AD 6115 CE - nomor polisi lama AD 6835 E
Pertama kali mengendarainya pada masa SMP, saat itu sekolah pilang lebih awal dan kebetulan Sprint tak dipakai Bapak ke kantor. Iseng iseng mulai kustater, tarik kloping dan buka gas..
Vespa melaju di dalam garasi menuju pintu keluar, naas .. aku salah perhitungan, tuas stater nyangkut di kusen pintu meninggalkan luka terkoyak kayunya...
Saat pulang kantor, aku ceritakan kejadian tadi. Bukannya marah, Bapak malah menyuruh aku untuk mencoba naik vespa lagi. Kali ini, dibimbing sama beliau. Sejak saat itu, aku jadi lebih sering keluar rumah menggunakan vespa, selain sepeda kayu tentunya.
Memasuki SMA, vespa kadang menemani kepergian ke sekolah atau ekstra basket di sore harinya. Saat itu hanya guru yang membawa vespa ke sekolah. Motor paling keren di sekolah saat itu, Tiger, RGR, GL Pro atau King. Setelah kubawa ke sekolah, lama lama ada juga teman yang membawa vespa ke sokolah.
Vespa ini sangat identik dengan Bapak saya, yang saat itu lebih dikenal "Pak RT". Bapak yang menanykan bapak, ketika kubawa vespa ini. Naik vespa tentu punya pengalaman tersendiri. Ada teman yang bilang kalau bonceng aku, badan bahkan matanya sampai keder/ bergetar, karena saat itu boncengan senagja tak kupasang. Pernah juga vespa kutinggal di jalan, karena bann belakang bocor.
Sejak kuliah, aku terpisah dengan vespa ini. Terkahir kupakai di Yogya, dan akhirnya kutinggal di rumah simbah di Klaten, karena saat itu itu aku harus segera ke Jatinangor. Sampai dengan aku menetap di Pekalongan mulai tahun 2001, vespa di rumah Sragen. Sempat ada niat kubawa bawa vespa untuk kerja di Pekalongan, tapi saat itu belum diperbolehkan.
Sampai akhir tahun 2012, barulah vespa menyusul di Pekalongan. Sempat lama tidak terpakai di Sragen, akhirnya aku dapat tugass untuk melanjutkan perawatannya. Walaupun aku sangat senang, karena bisa kembali naik sekuter, anak anakku rupanya masih malu, karena mengganngap ini kendaraan jadul.


No comments:
Post a Comment