Suatu ketika ada sepasang orang tua yang bersifat pemarah yang datang pada orang bijak agar ia bisa menjadi orang tua yang lebih sabar dalam mendidik anak-anak mereka.
Singkat cerita untuk mengurangi kebiasaan marah mereka, orang bijak memberikan sekantong paku dan mengatakan pada kedua orang itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah pada anaknya...
Hari pertama kedua orang tua itu telah memakukan 30 paku ke pagar setiap kali dia marah....
Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang.... Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar...
Akhirnya tibalah hari dimana kedua orang tua tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya...
Dia memberitahukan hal ini kepada orang bijak, yang kemudian orang bijak tersebut memintanya pulang dan mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah....
Hari-hari berlalu dan kedua orang tua itu akhirnya memberitahu sang guru bijak bahwa semua paku telah tercabut olehnya...
Lalu sang Bijak datang ke rumahnya dan menuntun kedua orang tua itu ke pagar..…….
"Hmm....? Kamu telah berhasil dengan baik anakku...,..tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini, pagar ini ,tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya,
ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan pada anakmu.…..Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini... di hatinya".
"Kamu dapat menusukkan paku pada pagar ini, lalu mencabut paku itu satu demi satu... tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf.... Luka itu akan tetap ada di sana.……
dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik bahkan lebih sakit lagi dan tidak pernah bisa benar2 hilang dari memori ingatan anak-anak kita...."
dari catatan Ayah Edy untuk kurenungkan ..
15.6.13
21.5.13
Aren
| Pohon aren di Plararsari |
AREN, menurut saya adalah salah satu potensi unggulan yang dimiliki Kecamatan Lebakbarang. Jika digarap dengan benar, bisa menghasilkan keuntungan jutaan rupiah per harinya.
Hikayat Wali Songo berkisah, dulu Raden Said pernah menantang adu kesaktian dengan Sunan Bonang. Dengan perlahan, tangan Sunan Bonang menujuk ke arah pohon aren di sebelahnya, berikut buahnya, berubah menjadi emas yang berkilau.
Banyak makna yang tersirat dari kisah tersebut. Di luar aspek religius, cerita itu juga memberi pesan terselubung tentang betapa besarnya nilai aren. Kalau Sunan Bonang menyandingkan aren dengan emas, kiranya tidak berlebihan.
Bukan hanya benilai tinggi dan mengagumkan bak emas, tapi juga mendukung keberlangsungan lingkungan hidup. Hampir semua yang melekat di aren bisa diambil manfaatnya. Mulai akar, batang, buah, hingga getahnya bernilai tinggi.
Bahkan pohon aren juga dikenal sebagai pencipta sumber mata air. Sifat akar aren yang menghunjam ke tanah menarik air tanah dan membentuk sumber air. Akar pohon aren juga bisa mengurangi resiko tanah longsor.
Pohon aren (Arenga pinnata) bukanlah tumbuhan yang sulit ditemui. Salah satu sebabnya, karena aren bukanlah tumbuhan yang rewel; dia bisa tumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak, di dataran, lereng bukit, lembah, dan gunung hingga ketinggian 1.400 mdpl. Pohon yang juga dinamakan enau ini juga bukan tumbuhan yang mudah sakit dan kebal hama, sehingga tidak membutuhkan pestisida.
Menurut Ir. Dian Kusumanto, Presiden Aren Foundation di Indonesia, populasi aren terbesar ada di Pulau Sulawesi, mulai dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara sampai ke Tanah Toraja dan seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Populasi aren juga banyak terdapat secara sporadis di wilayah Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.
Di Pulau Jawa, aren banyak ditemui mulai dari Lumajang (Jawa Timur) dan beberapa daerah di Pantai Selatan sampai di Tuban di Pantai Utara Jawa Timur. Di Jawa Tengah, tumbuhan aren banyak terdapat di daerah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Jawa Barat, aren tersebar di beberapa daerah, seperti Ciamis.

NIRA Dari semua hasil yang bisa diperoleh dari aren, nira aren dan produk olahannya yang menjadi produk unggulan. Nira adalah cairan manis yang mengucur keluar dari tandan bunga aren yang dilukai/diiris. Di Lebakbarang nira dikenal dengan istilah "badek".
Setiap pohon aren dapat menghasilkan nira rata-rata sekitar 20-25 liter per pohon per hari. Bandingkan dengan produksi nira kelapa yang sekitar 3-5 liter per pohon per hari. Di Nunukan, setiap pohon yang dikelola perajin nira aren menghasilkan rata-rata 10-15 liter per pohon per hari.
Menurut Pak Karnawi, warga Plararsari untuk menghasilkan satu kilo gula aren membutuhkan nira dari du pohon. Untuk memperoleh nira bukan urusan mudah. Diperlukan keberanian dan keterampilan memanjat pohon, bahkan bisa mencapai lebih dari 15 meter.
Produk olahan nira aren berupa gula aren nilainya paling tinggi dibandingkan dengan gula merah lainnya. Produsen gula aren masih mengolahnya secara tradisional, yang dicetak dalam bentuk separuh batok kelapa, kotak, silinder, atau lempeng. Gula aren merupakan gula murni yang tidak menggunakan bahan kimia pengawet, pewarna, atau aroma dalam pengolahannya.
Prospek produksi gula dari nira aren sangat menggiurkan. Mari kita hitung: setiap 5-7 liter nira bisa menghasilkan 1 kg gula merah. Kalau setiap pohon aren menghasilkan 10-15 liter nira, berarti setiap pohon aren bisa menghasilkan antara 2-3 kg gula merah per hari.
Kalau pohon aren ditanam secara intensif, misalnya dengan jarak tanam 5 x 10 meter persegi, untuk satu hektare lahan akan berisi sekitar 200 pohon aren. Seandainya hanya 50 persen saja yang bisa menghasilkan nira dan dikelola, maka akan didapat 50% x 200 pohon per hektare x 2-3 kg per pohon per hari; yaitu antara 200-300 kg gula aren untuk satu hektare kebun per hari.
Jika harga gula aren Rp10.000 per kg (untuk gula aren grade A bahkan mencapai Rp15.000), maka dari lahan satu hektare bisa menghasilkan antara Rp2 juta sampai Rp3 juta setiap harinya. Setahunnya, bisa mencapai 1 miliar! Menggiurkan, bukan?
Kalau berdasarkan keterangan Paka Karnawi, hitungan di atas berubah. Karena di Plararsari rata dua pohon menghasilkan satu kilo gula per hari. Jadi kira kira satu hektare menghasilkan Rp 500 ribu rupiah.
Itu baru dari gula. Nira aren juga sangat berpotensi sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil yang terus disedot dan bisa habis. Nira aren bisa diolah menjadi bioetanol.

IJUK Serabut-serabut yang terdapat di tubuh pohon aren juga bernilai ekonomis. Rambut-rambut hitam yang dinamakan ijuk ini bisa dibuat menjadi alat pembersih (sapu, sikat), tali, peredam suara studio, bantalan lapangan bola, pembungkus kabel bawah laut, tempat memijah ikan, dan kerajinan tangan yang beraneka.
Sayang, di Lebakbarang ijuk masih dijual dalam keadaan asli. Belum ada penglohan lanjutan. Harga satu kilo ijuk seribu rupiah. Biasanya ijuk-ijuk diambil oleh pedagang dari Semarang.
KOLANG KALING Buah pohon aren yang biasa disebut kolang-kaling juga bukan makanan yang asing. Buah berbentuk bulat sebesar biji salak dan berwarna putih transparan ini selalu muncul di bulan puasa, sebagai minuman yang menyegarkan saat berbuka.

GELANG Batang pohon aren juga bisa dimanfaatkan. Batang aren dikenal masyarakat Lebakbarang dengan nama "gelang". Sagu aren didapat dari batang pohon aren bagian dalam. Bagian luar yang sudah tua yang keras bisa dibuat untuk kayu bahan mebel dan aneka peralatan dari kayu yang tidak kalah dibandingkan dengan kayu lain.
Bahkan ada juga rumah yang dindingnya menggunakan kulit luar pohon aren.
Tetapi, penebangan pohon aren tanpa dibarengi penanaman akan mengganggu ketersediaan pohon aren di alam.
Betapa banyak manfaat dari pohon aren. Jadi, benar kata Sunan Bonang tadi. Pohon aren bisa berubah menjadi emas yang berkilau.
Lebakbarang, 20 Mei 2013Sumber : Majalah Intisari dan Obrolan langsung dengan warga Plararsari
Hikayat Wali Songo berkisah, dulu Raden Said pernah menantang adu kesaktian dengan Sunan Bonang. Dengan perlahan, tangan Sunan Bonang menujuk ke arah pohon aren di sebelahnya, berikut buahnya, berubah menjadi emas yang berkilau.
Banyak makna yang tersirat dari kisah tersebut. Di luar aspek religius, cerita itu juga memberi pesan terselubung tentang betapa besarnya nilai aren. Kalau Sunan Bonang menyandingkan aren dengan emas, kiranya tidak berlebihan. Bukan hanya benilai tinggi dan mengagumkan bak emas, tapi juga mendukung keberlangsungan lingkungan hidup. Hampir semua yang melekat di aren bisa diambil manfaatnya. Mulai akar, batang, buah, hingga getahnya bernilai tinggi.
Bahkan pohon aren juga dikenal sebagai pencipta sumber mata air. Sifat akar aren yang menghunjam ke tanah menarik air tanah dan membentuk sumber air. Akar pohon aren juga bisa mengurangi resiko tanah longsor.
Pohon aren (Arenga pinnata) bukanlah tumbuhan yang sulit ditemui. Salah satu sebabnya, karena aren bukanlah tumbuhan yang rewel; dia bisa tumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak, di dataran, lereng bukit, lembah, dan gunung hingga ketinggian 1.400 mdpl. Pohon yang juga dinamakan enau ini juga bukan tumbuhan yang mudah sakit dan kebal hama, sehingga tidak membutuhkan pestisida.
Menurut Ir. Dian Kusumanto, Presiden Aren Foundation di Indonesia, populasi aren terbesar ada di Pulau Sulawesi, mulai dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara sampai ke Tanah Toraja dan seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Populasi aren juga banyak terdapat secara sporadis di wilayah Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.
Di Pulau Jawa, aren banyak ditemui mulai dari Lumajang (Jawa Timur) dan beberapa daerah di Pantai Selatan sampai di Tuban di Pantai Utara Jawa Timur. Di Jawa Tengah, tumbuhan aren banyak terdapat di daerah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Jawa Barat, aren tersebar di beberapa daerah, seperti Ciamis.
NIRA Dari semua hasil yang bisa diperoleh dari aren, nira aren dan produk olahannya yang menjadi produk unggulan. Nira adalah cairan manis yang mengucur keluar dari tandan bunga aren yang dilukai/diiris. Di Lebakbarang nira dikenal dengan istilah "badek".
Setiap pohon aren dapat menghasilkan nira rata-rata sekitar 20-25 liter per pohon per hari. Bandingkan dengan produksi nira kelapa yang sekitar 3-5 liter per pohon per hari. Di Nunukan, setiap pohon yang dikelola perajin nira aren menghasilkan rata-rata 10-15 liter per pohon per hari.
Menurut Pak Karnawi, warga Plararsari untuk menghasilkan satu kilo gula aren membutuhkan nira dari du pohon. Untuk memperoleh nira bukan urusan mudah. Diperlukan keberanian dan keterampilan memanjat pohon, bahkan bisa mencapai lebih dari 15 meter.
Produk olahan nira aren berupa gula aren nilainya paling tinggi dibandingkan dengan gula merah lainnya. Produsen gula aren masih mengolahnya secara tradisional, yang dicetak dalam bentuk separuh batok kelapa, kotak, silinder, atau lempeng. Gula aren merupakan gula murni yang tidak menggunakan bahan kimia pengawet, pewarna, atau aroma dalam pengolahannya.
Prospek produksi gula dari nira aren sangat menggiurkan. Mari kita hitung: setiap 5-7 liter nira bisa menghasilkan 1 kg gula merah. Kalau setiap pohon aren menghasilkan 10-15 liter nira, berarti setiap pohon aren bisa menghasilkan antara 2-3 kg gula merah per hari.
Kalau pohon aren ditanam secara intensif, misalnya dengan jarak tanam 5 x 10 meter persegi, untuk satu hektare lahan akan berisi sekitar 200 pohon aren. Seandainya hanya 50 persen saja yang bisa menghasilkan nira dan dikelola, maka akan didapat 50% x 200 pohon per hektare x 2-3 kg per pohon per hari; yaitu antara 200-300 kg gula aren untuk satu hektare kebun per hari.
Jika harga gula aren Rp10.000 per kg (untuk gula aren grade A bahkan mencapai Rp15.000), maka dari lahan satu hektare bisa menghasilkan antara Rp2 juta sampai Rp3 juta setiap harinya. Setahunnya, bisa mencapai 1 miliar! Menggiurkan, bukan?
Kalau berdasarkan keterangan Paka Karnawi, hitungan di atas berubah. Karena di Plararsari rata dua pohon menghasilkan satu kilo gula per hari. Jadi kira kira satu hektare menghasilkan Rp 500 ribu rupiah.
Itu baru dari gula. Nira aren juga sangat berpotensi sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil yang terus disedot dan bisa habis. Nira aren bisa diolah menjadi bioetanol.

IJUK Serabut-serabut yang terdapat di tubuh pohon aren juga bernilai ekonomis. Rambut-rambut hitam yang dinamakan ijuk ini bisa dibuat menjadi alat pembersih (sapu, sikat), tali, peredam suara studio, bantalan lapangan bola, pembungkus kabel bawah laut, tempat memijah ikan, dan kerajinan tangan yang beraneka.
Sayang, di Lebakbarang ijuk masih dijual dalam keadaan asli. Belum ada penglohan lanjutan. Harga satu kilo ijuk seribu rupiah. Biasanya ijuk-ijuk diambil oleh pedagang dari Semarang.
KOLANG KALING Buah pohon aren yang biasa disebut kolang-kaling juga bukan makanan yang asing. Buah berbentuk bulat sebesar biji salak dan berwarna putih transparan ini selalu muncul di bulan puasa, sebagai minuman yang menyegarkan saat berbuka.

GELANG Batang pohon aren juga bisa dimanfaatkan. Batang aren dikenal masyarakat Lebakbarang dengan nama "gelang". Sagu aren didapat dari batang pohon aren bagian dalam. Bagian luar yang sudah tua yang keras bisa dibuat untuk kayu bahan mebel dan aneka peralatan dari kayu yang tidak kalah dibandingkan dengan kayu lain.
Bahkan ada juga rumah yang dindingnya menggunakan kulit luar pohon aren.
Tetapi, penebangan pohon aren tanpa dibarengi penanaman akan mengganggu ketersediaan pohon aren di alam.
Betapa banyak manfaat dari pohon aren. Jadi, benar kata Sunan Bonang tadi. Pohon aren bisa berubah menjadi emas yang berkilau.
Lebakbarang, 20 Mei 2013Sumber : Majalah Intisari dan Obrolan langsung dengan warga Plararsari
16.5.13
Batu Lenjing
Batu Lenjing merupakan petilasan berupa batu lingga yoni yang terletak di Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan. Petilasan tersebut berbetuk sebuah balok batu panjang yang terletak di sebuah tempat seperti meja yang berlubang. Balok batu yang meyerupai lesung tersebut dikenal sebagai Lingga, bentuk ini merupakan simbol alat kelamin laki-laki. Sedangkan batu berbentuk meja atau meyerupai lumpang dikenal sebagai Yoni, bentuk ini merupakan simbol alat kelamin perempuan.
Merupakan peninggalan sejarah nenek moyang pada jaman
dahulu sebelum terbentuknya Dukuh Parakandowo. Hal tersebut sebagaimana dituturkan oleh juru kunci (pengelola) Batu Lenjing yaitu
Mbah Duryani. Beliau merupakan juru kunci secara turun
temurun dari nenek moyangnya jaman dahulu sampai sekarang.
Pada
Jaman dahulu, orang pertama kali yang membuka hutan belantara
yang sekarang menjadi Dukuh Parakandowo adalah
Mbah Lintang. Nara sumber tidak mengetahui persis kapan dan asal
usulnya dari mana. Setelah hutan tersebut jadi sebuah dukuh, Mbah Lintang menikah dan mempunyai seorang
anak laki-laki yang diberi nama Mbah Kuwu. Dengan kegigihannya, Mbah Lintang dan Mbah Kuwu saling bahu membahu membuka
hutan dijadikan ladang dan pedukuhan. Setelah dirasa cukup usia, Mbah Kuwu menikah dan mempunyai
anak yang diberi nama Mbah Agung.
Setelah
Mbah Agung beranjak dewasa, beliau membuat sebuah petilasan yang berbentuk mirip seperti lumpang terbuat dari yang dipahat dengan
rapi dan indah. Hal ini membuktikan bahwa sejak jaman dahulu, nenak moyang sudah mempunyai keahlian dan
jiwa seni yang tinggi dengan dibuktikan adanya
bangunan semacam itu. Bangunan itu sekarang
diberi nama petilasan Batu Lenjing/ Lingga yoni. Sampai
sekarang bangunan tersebut masih dikeramatkan.
Pada suatu masa, rakyat di pedukuhan Parakandowo ingin membuktikan keramatnya Batu Lenjing. Menurut
nara sumber, batu itu dibuang oleh warga
setempat ke dasar jurang untuk membuktikan apakah batu itu
ada mukjizatnya apakah tidak. Ternyata setelah dibuang, batu itu dengan
sangat ajaib kembali lagi ke tempat asalnya sampai sekarang. Bertempat di Dukuh Parakandowo, tepatnya berada di belakang rumah penduduk. Setelah kejadian
itu, antara
Mbah Lintang , Mbah Kuwu dan Mbah Agung memberikan wejangan kepada warga
masyarakat untuk tidak membuang batu itu lagi dan untuk merawatnya .
Sebelum
ketiganya wafat, mereka berpesan apa bila ada peziarah yang ingin membuktikan
keramatnya batu tersebut, orang tersebut berhati bersih dan tidak sembarangan di tempat
itu.
Mbah Kuwu
dan Mbah Agung wafat di Dukuh Parakandowo dan meninggalkan petilasan yang berbentuk batu lumpang yang lebih
dikenal dengan nama Batu Lenjing yang sampai sekarang masih sering dikunjungi peziarah.
Peziarah
yang datang ke tempat itu bukan dari warga setempat, tapi
juga warga dari luar Kecamatan
Lebakbarang. Bagi peziarah mempunyai suatu keinginan, terkait dengan
rejeki, jabatan, keselamatann, jodoh dan sebagainya. Dengan
lantaran wasilah ke tempat tersebut dan melalui seorang juru kunci, yang memintakan izin terlebih
dahulu kepada yang bahurekso petilasan tersebut. Kadang
kala ada peziarah yang tidak mampu untuk mengangkat batu yang terdapat di tengah
lubang lingga yoni tersebut. Hal tersebut menandakan dia tidak mendapat
restu. Apabila peziarah mampu mengangkat batu yang terdapat di tengah
lingga yoni tersebut, berati dia
mendapat izin dari yang bahurekso.
Lebakbarang, 16 Mei 2013
Konon, cepat atau lambat keinginanya akan terkabul, selama dia bermaksud yang baik dan hati yang bersih. Petilasan Batu Lenjing diperkirakan sudah berusia seribu tahunan.
Demikian cerita singkat mengenai sejarah asal muasal Batu Lenjing dan Dukuh Parakandowo Desa Sodomulyo Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan sebagaimana dituturkan langsung dari juru kunci petilasan tersebut.
Lebakbarang, 16 Mei 2013
13.5.13
Taman
Sebuah gubug di tengah Sawah Desa Lebakbarang,
rumah dikelilingi taman alami
|
Sampai tempat kerja pagi ini, dapat kabar kalau survey pasar desa tidak jadi dilaksanakan hari ini. Pak Sardana menerima pemberitahuan tersebut dari Pak Budiono melalui telepon. Ini membawa keuntungan, berarti saya bisa mengatur waktu pulang kerja. Masih dipikirkan dan belum ketemu solusinya : dengan waktu tempuh dari rumah ke kantor sekitar satu jam, sebelum jum’atan harus jemput anak di sekolah. Tanpa tergantung waktu selesainya survey, kemungkinan acara jemput anak dapat terlaksana.
Pak bos hari itu tidak bisa ke ruang kerjanya karena masih sakit. Acara senam belum juga dimulai, sementara panas matahari makin bertambah. Setengan jam lagi ada rapat di aula. Okelah, kita senam dulu. Walaupun saya kesulitan untuk menyesuaikan gerakan dari instrukturnya. Kurang dari setengah jam berrlalu, kaki sudah mulai pegel-pegel juga. Sambil senam masih kepikiran rapat hari Rabu kemarin.
Mengundang kepala desa, organisasi masyarakat,
usahawan di tingkat kecamatan pak Bos bermaksud untuk membangun taman di sepanjang
pinggir jalan masuk kota kecamatan. Dari awal saya kurang optimis untuk
pembangunan taman di pinggir jalan. Keberlanjutan dan pemeliharaan taman
menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi saya, mengaca beberapa tempat yang sudah
pernah membangun taman di pingggir jalan apalagi masalah pendanaan yang harus
ditanggung masing-masing instansi. Belum lagi, saya pikir lahan yang akan
dipakai terlalu sempit. Badan jalan akan semakin sesak karena bahu jalan dijadikan
taman. Dalam rapat tersebut, ketika saya diperintahkan untuk membentuk tim
pelaksana pembangunan taman saya sampaikan pemikiran saya tersebut.
Maaf bos, saya terpaksa menyampaikan dalam forum
tersebut, karena peserta rapat diminat kesepakatan. Saya rasakan kesepakatan
itu masih dengan setengah hati. Ya, setengah hati.. ketika bapak menanyakan
kesepakatan tersebut sampai diulang dua kali. Sebelumnya, juga ada pesimisme
yang terungkap halus yang saya rasakan dari pertanyaan dari wakil ormas. Terasa
lega setelah saya menyampaikan pemikiran itu, selama rapat pikiran terpendam
dan sebenarnya tidak akan saya omongkan. Karena ada kesempatan, sekalian saya
ungkapkan. Mungkin bagi sebagian orang menganggap tindakan saya kurang tepat.
Bukan bermaksud tidak setuju untuk membuat kota
menjadi lebih indah, tapi saya coba mengartikan taman tersebut lebih luas
diartikan. Untuk membuat lebih indah saya pikir tidak hanya pinggir jalan
dibuat taman, tapi satu desa kita buat lebih indah. Jadikan seluruh wilayah ini
ibarat taman : hijau, bersih, rapi tapi tetap alami. Taman dengan kontruksi/
bangunan di pinggir jalan menurut saya justru akan mengganggu lalu lintas. Dari
yang arti taman dalam arti sempit dan berjangka pendek ini, saya berpikir
kenapa tidak diperluas dan bila mungkin tanaman budaya bersih dalam
masyarakatnya. Karena membuat satu desa menjadi sebuah taman alami dibutuhkan
peran serta masyarakatnya.
Tapi pendapat yang berbeda tersebut justru membuat
peserta rapat menunjuk saya untuk mengetuai tim pembuatan taman.
Setelah senam selesai, saya akan jalan-jalan
sepanjang jalan masuk kota kecamatan, sambil dokumentasi dan identifikassi
kemungkinan pembuatan taman pinggir jalan.
| Jembatan Kaliwadas, pertanda kita segera masuk wilayah kota |
Oh ya, saya juga sempat usul untuk mengadakan kerja
bhakti atau “gugur gunung” untuk melakukan kebersihan/ perapian sepanjang jalan
tersebut. Sayang saat itu, belum dapat tanggapan dari pak bos. Dari hasil
jalan-jalan ini saya semakin yakin kalau “gugur gunung” tersebut dilaksanakan,
akan mengembalikan pesona taman alam di sapanjang jalan ini. Dengan melibatkan
warga, diharapkan rasa tanggung jawab menjaga taman atau lebih tepatnya
lingkungan akan mulai tertanam seluruh warga.
Ada oleh-oleh lain yang bisa saya bawa pulang dari
perjalanan ini, anggrek. Saya mendapatkan anggrek liar tersebut menepel pada
batang pohon kopi di pinggir jalan. Ketika akan mengambil gambar melalui
kamera, saya sekilas melihat bunga putih yang ternyata anggrek, maka saya
adopsi anggrek liar itu. Anggrek tersebut akan saya tambahkan di taman depan
rumahku. Kalau di tempat asalnya menumpang pada tanaman kopi, di taman rumah
menempel di pohon kamboja.
Tak terasa sampai kantor sudah lewat jamm 11, harus
segera turun gunung. Jemput anak dan mengantar penghuni baru taman depan ke
rumah barunya.
9.5.13
Ora Usah ngUdut (Maneh)
Setelah sekitar empat tahun kambuh menjadi seorang perokok, keinginan untuk menghentikan kebiasaan itu mulai muncul lagi.
Rokok sudah menjadi kebiasaan pada waktu SMA. Hampir tiap hari sebatang rokok diisap kala itu. Menginjak kuliah, sempat berhenti satu tahunan. Kemudian mulai merokok lagi walaupun tidak tiap hari. Tahun terakhir kuliah, kebiasaan merokok kian bertambah. Sehari minimal menghisap tiga batang.
Setelah bekerja kebiasaan merokok masih berlanjut. Kadang beberapa waktu kebiasaan tersebut berhenti, itu terjadi biasanya lagi sakit saja. Sampai kemudian saya bekerja di daerah pegunungan yang sejuk bahkan boleh dibilang cenderung dingin. Seolah mendapat pasangan yang pas, kebiasaan merokok dengan suasana kerja. Cuaca yang sering hujan dan dingin dengan kebiasaan merokok. Ya, merokok menjadi teman yang hangat kala seperti itu.
Berkunjung ke desa-desa, bertemu dengan beberapa orang, membuat kebiasaan ini susah untuk ditinggalkan. Bertemu teman, bertemu saudara apalagi mengobrol di malam hari, serasa tidak lengkap tanpa menghisap rokok.
Dari seorang yang dulu tidak harus tiap hari merokok, perlahan menjadi seorang yang tiap hari harus merokok. Ada yang kurang kalau belum menghisap rokok. Kata orang sudah kecanduan rokok. Entah karena nikotin, atau karena rasa yang lain yang pasti untuk melepas kebiasaan tersebut sangatlah sulit.
Suatu ketika setelah sekitar satu tahun bekerja di daerah pegunungan, saya terkena flu. Merokok tidak nikmat, di mulut terasa pahit. Maka dengan terpaksa, saya tidak merokok karena kehilangan kenikmatan. Setelah seminggu badan sudah baikan, saya masih belum merokok lagi. Bahkan, saat itu sudah seperti melupakan kebiasaan itu. Di lingkungan kantor saya saat itu memang jumlah perokoknya sedikit.
Saya mulai menanamkan niat untuk berhenti merokok. Dengan suasana dan lingkungan yang mendukung, sampai sekitar enam bulan saya berhenti merokok.
Kemudian saya pindah tempat kerja. Kali ini dekat dari rumah, akan tetapi dengan beban kerja yang lebih banyak. Genap satu tahun saya berhenti merokok, permasalahan pekerjaan menjadi godaan yang luar biasa. Di lingkungan kerja yang baru ini, boleh dibilang saya berada di lingkungan yang mayoritas perokok. Suasana dan lingkungan baru, menggoda saya untuk menjadi perokok lagi.
Selama satu tahun, ketika saya merenovasi rumah, kebiasaan merokok yang hal yang wajib. Mengawasi pekerjaan, ngobrol dengan tukang, berburu inspirasi dan material sambil menjepit sebatang rokok di jari. istri dan anak-anak memprotes kebiasaan ini. Terutama anak-anak, apabila kalau ada iklan layanan masyarakat di radio. "Yah, rokok itu katanya racun. Bisa membunuh", mereka menirukan iklan tersebut. Saya hanya mengiyakan. Saat itu belum ada keinginan untuk berhenti merokok, walaupun saya janji kalau rumah sudah selesai akan berhenti merokok. Sampai rumah sudah saya tempati lagi, saya masih belum ada hasrat berhenti merokok. Sampai saat ini ( kalau boleh dibilang di bulan April 2013) saya menjadi perokok.
Sekitar lima bulan lalu, saya kembali bekerja di daerah pegunungan. Tempat empat tahun lalu saya bekerja. Tentang kebiasaan merokok saya, masih berjalan seperti biasa.
Teringat dengan janji saya kepada anak-anak, bahkan mereka bilang kalau lihat saya merokok saya akan didenda sepuluh ribu rupiah. Ya, saya hutang kepada mereka. Janji adalah hutang, kata orang. Lebih dari itu, saya telah merugikan mereka dengan asap rokok yang secara tidak sengaja mereka hisap. Atau uang yang saya keluarkan untuk rokok, sebenarnya bisa mereka nikmati untuk sekolah atau kesenangan anak-anak.
Dorongan untuk berhenti merokok mulai menyeruak ke dalam pemikiran saya. Memasuki bulan Mei, ketika dalam bungkus rokok saya tersisa dua batang rokok Djisamsu Premium. Yang saya hisap sebatang, kemudian sebatang terakhir saya berikan kepada teman. Saya bilang dalam hati, ini rokok terakhir yang saya hisap.
Ternyata, entah kenapa saya merasa butuh moment untuk mengingat waktu saya berniat. Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional saya jadikan pengingat waktu berhenti merokok, karena hari itu paling dekat waktunya. Dalam perjalanan saya pulang dari kantor, tanggal 2 Mei 2013. Kebetulan juga hari itu, dalam upacara peringatannya saya harus menjadi pembina upacara. Di atas motor, menyusuri jalan pegunungan, niat untuk berhenti merokok semakin kuat.
Jalan masih jauh untuk lepas dari godaan untuk merokok. Sesulit jalan yang harus kulewati ke tempat kerja, naik turun dan rusak. Mudah-mudahan niat ini berhasil.
Lebakbarang, Mei 2013
Rokok sudah menjadi kebiasaan pada waktu SMA. Hampir tiap hari sebatang rokok diisap kala itu. Menginjak kuliah, sempat berhenti satu tahunan. Kemudian mulai merokok lagi walaupun tidak tiap hari. Tahun terakhir kuliah, kebiasaan merokok kian bertambah. Sehari minimal menghisap tiga batang.
Setelah bekerja kebiasaan merokok masih berlanjut. Kadang beberapa waktu kebiasaan tersebut berhenti, itu terjadi biasanya lagi sakit saja. Sampai kemudian saya bekerja di daerah pegunungan yang sejuk bahkan boleh dibilang cenderung dingin. Seolah mendapat pasangan yang pas, kebiasaan merokok dengan suasana kerja. Cuaca yang sering hujan dan dingin dengan kebiasaan merokok. Ya, merokok menjadi teman yang hangat kala seperti itu.
Berkunjung ke desa-desa, bertemu dengan beberapa orang, membuat kebiasaan ini susah untuk ditinggalkan. Bertemu teman, bertemu saudara apalagi mengobrol di malam hari, serasa tidak lengkap tanpa menghisap rokok.
Dari seorang yang dulu tidak harus tiap hari merokok, perlahan menjadi seorang yang tiap hari harus merokok. Ada yang kurang kalau belum menghisap rokok. Kata orang sudah kecanduan rokok. Entah karena nikotin, atau karena rasa yang lain yang pasti untuk melepas kebiasaan tersebut sangatlah sulit.
Suatu ketika setelah sekitar satu tahun bekerja di daerah pegunungan, saya terkena flu. Merokok tidak nikmat, di mulut terasa pahit. Maka dengan terpaksa, saya tidak merokok karena kehilangan kenikmatan. Setelah seminggu badan sudah baikan, saya masih belum merokok lagi. Bahkan, saat itu sudah seperti melupakan kebiasaan itu. Di lingkungan kantor saya saat itu memang jumlah perokoknya sedikit.
Saya mulai menanamkan niat untuk berhenti merokok. Dengan suasana dan lingkungan yang mendukung, sampai sekitar enam bulan saya berhenti merokok.
Kemudian saya pindah tempat kerja. Kali ini dekat dari rumah, akan tetapi dengan beban kerja yang lebih banyak. Genap satu tahun saya berhenti merokok, permasalahan pekerjaan menjadi godaan yang luar biasa. Di lingkungan kerja yang baru ini, boleh dibilang saya berada di lingkungan yang mayoritas perokok. Suasana dan lingkungan baru, menggoda saya untuk menjadi perokok lagi.
Selama satu tahun, ketika saya merenovasi rumah, kebiasaan merokok yang hal yang wajib. Mengawasi pekerjaan, ngobrol dengan tukang, berburu inspirasi dan material sambil menjepit sebatang rokok di jari. istri dan anak-anak memprotes kebiasaan ini. Terutama anak-anak, apabila kalau ada iklan layanan masyarakat di radio. "Yah, rokok itu katanya racun. Bisa membunuh", mereka menirukan iklan tersebut. Saya hanya mengiyakan. Saat itu belum ada keinginan untuk berhenti merokok, walaupun saya janji kalau rumah sudah selesai akan berhenti merokok. Sampai rumah sudah saya tempati lagi, saya masih belum ada hasrat berhenti merokok. Sampai saat ini ( kalau boleh dibilang di bulan April 2013) saya menjadi perokok.
Sekitar lima bulan lalu, saya kembali bekerja di daerah pegunungan. Tempat empat tahun lalu saya bekerja. Tentang kebiasaan merokok saya, masih berjalan seperti biasa.
Teringat dengan janji saya kepada anak-anak, bahkan mereka bilang kalau lihat saya merokok saya akan didenda sepuluh ribu rupiah. Ya, saya hutang kepada mereka. Janji adalah hutang, kata orang. Lebih dari itu, saya telah merugikan mereka dengan asap rokok yang secara tidak sengaja mereka hisap. Atau uang yang saya keluarkan untuk rokok, sebenarnya bisa mereka nikmati untuk sekolah atau kesenangan anak-anak.
Dorongan untuk berhenti merokok mulai menyeruak ke dalam pemikiran saya. Memasuki bulan Mei, ketika dalam bungkus rokok saya tersisa dua batang rokok Djisamsu Premium. Yang saya hisap sebatang, kemudian sebatang terakhir saya berikan kepada teman. Saya bilang dalam hati, ini rokok terakhir yang saya hisap.
Ternyata, entah kenapa saya merasa butuh moment untuk mengingat waktu saya berniat. Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional saya jadikan pengingat waktu berhenti merokok, karena hari itu paling dekat waktunya. Dalam perjalanan saya pulang dari kantor, tanggal 2 Mei 2013. Kebetulan juga hari itu, dalam upacara peringatannya saya harus menjadi pembina upacara. Di atas motor, menyusuri jalan pegunungan, niat untuk berhenti merokok semakin kuat.
Jalan masih jauh untuk lepas dari godaan untuk merokok. Sesulit jalan yang harus kulewati ke tempat kerja, naik turun dan rusak. Mudah-mudahan niat ini berhasil.
Lebakbarang, Mei 2013
Suara yang Menenangkan
Kerinduan pada suara kicau burung deruk ( derkuku ) akhir berujung keinginan untuk menjadikan burung ini sebagai salah anggota penghuni rumah kami. Saya berharap kicau atau "manggung" (istilah yang dipakai khusus untuk burung perkutut) dari burung ini menjadikan tambah bebunyian di rumah.
Suaranya yang merdu, sederhana, tidak berisik dan yang pasti setiap mendengarkan manggungnya terasa nyaman & menenangkan pikiran. Walaupun tidak setenar ( kalah gengsi ) dibanding burung perkutut, burung ini ada sedikit kemiripan dari bentuk fisiknya. Karena kelasnya di bawah burung perkutut, burung ini di pasaran harganya lebih murah. Di alam liar juga lebih mudah ditemui dibanding burung perkutut.
Di alam liar, saya kadang masih menjumpai burung ini di kebun atau sawah yang jauh dari pemukiman. Di rumah, sebagai burung peliharaan dahulu sering dijumpai di rumah sederhana. Mungkin karena pemilik rumah tidak kesampaian untuk memiliki burung perkutut yang gengsinya lebih tinggi sehingga memilih memelihara burung ini, untuk sementara.
Dahulu ketika awal-awal kami menempati rumah ini, kebun di depan rumah yang berada di seberang saluran air masih banyak pepohonan tinggi. Di pinggir kebun banyak pohon kelapa, dan di tengah kebun tedapat bermacam-macam pohon keras. Sering kami mendengar kicauan burung dari kebun tersebut, salah satunya manggungnya si deruk.
Sekarang di kebun tersebut tidak menyisakan pohon kelapa, dan kebun hanya terisi ilalang dan pohon sengon yang tidak terawat. Burung deruk pun enggan mampir di kebun terrsebut.
Karena alasan ekonomis, romantisme masa kecil, yang lebih mudah diperoleh serta dipelihara kami memutuskan untuk memeliharanya.
Walaupun tidak seindah dan sebebasnya kicau dari kebun seperti waktu dulu, kicauan dari dalam sangkar merah mengobati kerrinduan ini.
Kuk, geruk.....
Subscribe to:
Posts (Atom)

