21.5.13

Aren

Pohon aren di Plararsari
AREN, menurut saya adalah salah satu potensi unggulan yang dimiliki Kecamatan Lebakbarang. Jika digarap dengan benar, bisa menghasilkan keuntungan jutaan rupiah per harinya.

Hikayat Wali Songo berkisah, dulu Raden Said pernah menantang adu kesaktian dengan Sunan Bonang. Dengan perlahan, tangan Sunan Bonang menujuk ke arah pohon aren di sebelahnya, berikut buahnya, berubah menjadi emas yang berkilau.


Banyak makna yang tersirat dari kisah tersebut. Di luar aspek religius, cerita itu juga memberi pesan terselubung tentang betapa besarnya nilai aren. Kalau Sunan Bonang menyandingkan aren dengan emas, kiranya tidak berlebihan.

Bukan hanya benilai tinggi dan mengagumkan bak emas, tapi juga mendukung keberlangsungan lingkungan hidup. Hampir semua yang melekat di aren bisa diambil manfaatnya. Mulai akar, batang, buah, hingga getahnya bernilai tinggi.

Bahkan pohon aren juga dikenal sebagai pencipta sumber mata air. Sifat akar aren yang menghunjam ke tanah menarik air tanah dan membentuk sumber air. Akar pohon aren juga bisa mengurangi resiko tanah longsor.
Pohon aren (Arenga pinnata) bukanlah tumbuhan yang sulit ditemui. Salah satu sebabnya, karena aren bukanlah tumbuhan yang rewel; dia bisa tumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak, di dataran, lereng bukit, lembah, dan gunung hingga ketinggian 1.400 mdpl. Pohon yang juga dinamakan enau ini juga bukan tumbuhan yang mudah sakit dan kebal hama, sehingga tidak membutuhkan pestisida. 



Menurut Ir. Dian Kusumanto, Presiden Aren Foundation di Indonesia, populasi aren terbesar ada di Pulau Sulawesi, mulai dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara sampai ke Tanah Toraja dan seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Populasi aren juga banyak terdapat secara sporadis di wilayah Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

Di Pulau Jawa, aren banyak ditemui mulai dari Lumajang (Jawa Timur) dan beberapa daerah di Pantai Selatan sampai di Tuban di Pantai Utara Jawa Timur. Di Jawa Tengah, tumbuhan aren banyak terdapat di daerah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Jawa Barat, aren tersebar di beberapa daerah, seperti Ciamis.


NIRA Dari semua hasil yang bisa diperoleh dari aren, nira aren dan produk olahannya yang menjadi produk unggulan. Nira adalah cairan manis yang mengucur keluar dari tandan bunga aren yang dilukai/diiris. Di Lebakbarang nira dikenal dengan istilah "badek".

Setiap pohon aren dapat menghasilkan nira rata-rata sekitar 20-25 liter per pohon per hari. Bandingkan dengan produksi nira kelapa yang sekitar 3-5 liter per pohon per hari. Di Nunukan, setiap pohon yang dikelola perajin nira aren menghasilkan rata-rata 10-15 liter per pohon per hari.

Menurut Pak Karnawi, warga Plararsari untuk menghasilkan satu kilo gula aren membutuhkan nira dari du pohon. Untuk memperoleh nira bukan urusan mudah. Diperlukan keberanian dan keterampilan memanjat pohon, bahkan bisa mencapai lebih dari 15 meter.
Produk olahan nira aren berupa gula aren nilainya paling tinggi dibandingkan dengan gula merah lainnya. Produsen gula aren masih mengolahnya secara tradisional, yang dicetak dalam bentuk separuh batok kelapa, kotak, silinder, atau lempeng. Gula aren merupakan gula murni yang tidak menggunakan bahan kimia pengawet, pewarna, atau aroma dalam pengolahannya.
Prospek produksi gula dari nira aren sangat menggiurkan. Mari kita hitung: setiap 5-7 liter nira bisa menghasilkan 1 kg gula merah. Kalau setiap pohon aren menghasilkan 10-15 liter nira, berarti setiap pohon aren bisa menghasilkan antara 2-3 kg gula merah per hari.

Kalau pohon aren ditanam secara intensif, misalnya dengan jarak tanam 5 x 10 meter persegi, untuk satu hektare lahan akan berisi sekitar 200 pohon aren. Seandainya hanya 50 persen saja yang bisa menghasilkan nira dan dikelola, maka akan didapat 50% x 200 pohon per hektare x 2-3 kg per pohon per hari; yaitu antara 200-300 kg gula aren untuk satu hektare kebun per hari.
Jika harga gula aren Rp10.000 per kg (untuk gula aren grade A bahkan mencapai Rp15.000), maka dari lahan satu hektare bisa menghasilkan antara Rp2 juta sampai Rp3 juta setiap harinya. Setahunnya, bisa mencapai 1 miliar! Menggiurkan, bukan?

Kalau berdasarkan keterangan Paka Karnawi, hitungan di atas berubah. Karena di Plararsari rata dua pohon menghasilkan satu kilo gula per hari. Jadi kira kira satu hektare menghasilkan Rp 500 ribu rupiah.

Itu baru dari gula. Nira aren juga sangat berpotensi sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil yang terus disedot dan bisa habis. Nira aren bisa diolah menjadi bioetanol.


IJUK Serabut-serabut yang terdapat di tubuh pohon aren juga bernilai ekonomis. Rambut-rambut hitam yang dinamakan ijuk ini bisa dibuat menjadi alat pembersih (sapu, sikat), tali, peredam suara studio, bantalan lapangan bola, pembungkus kabel bawah laut, tempat memijah ikan, dan kerajinan tangan yang beraneka.

Sayang, di Lebakbarang ijuk masih dijual dalam keadaan asli. Belum ada penglohan lanjutan. Harga satu kilo ijuk seribu rupiah. Biasanya ijuk-ijuk diambil oleh pedagang dari Semarang.



KOLANG KALING Buah pohon aren yang biasa disebut kolang-kaling juga bukan makanan yang asing. Buah berbentuk bulat sebesar biji salak dan berwarna putih transparan ini selalu muncul di bulan puasa, sebagai minuman yang menyegarkan saat berbuka.


GELANG Batang pohon aren juga bisa dimanfaatkan. Batang aren dikenal masyarakat Lebakbarang dengan nama "gelang". Sagu aren didapat dari batang pohon aren bagian dalam. Bagian luar yang sudah tua yang keras bisa dibuat untuk kayu bahan mebel dan aneka peralatan dari kayu yang tidak kalah dibandingkan dengan kayu lain.

Bahkan ada juga rumah yang dindingnya menggunakan kulit luar pohon aren.

Tetapi, penebangan pohon aren tanpa dibarengi penanaman akan mengganggu ketersediaan pohon aren di alam.

Betapa banyak manfaat dari pohon aren. Jadi, benar kata Sunan Bonang tadi. Pohon aren bisa berubah menjadi emas yang berkilau.


Lebakbarang, 20 Mei 2013
Sumber : Majalah Intisari dan Obrolan langsung dengan warga Plararsari

16.5.13

Batu Lenjing


   Batu Lenjing merupakan petilasan berupa batu lingga yoni yang terletak di Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan. Petilasan tersebut berbetuk sebuah balok batu panjang yang terletak di sebuah tempat seperti meja yang berlubang. Balok batu yang meyerupai lesung tersebut dikenal sebagai Lingga, bentuk ini merupakan simbol alat kelamin laki-laki. Sedangkan batu berbentuk meja atau meyerupai lumpang dikenal sebagai Yoni, bentuk ini merupakan simbol alat kelamin perempuan.
  Merupakan peninggalan sejarah nenek moyang pada jaman dahulu sebelum terbentuknya Dukuh Parakandowo. Hal tersebut sebagaimana dituturkan oleh juru kunci (pengelola) Batu Lenjing yaitu Mbah Duryani. Beliau merupakan juru kunci secara turun temurun dari nenek moyangnya jaman dahulu sampai sekarang.
   Pada Jaman dahulu, orang pertama kali yang membuka hutan belantara  yang sekarang menjadi Dukuh Parakandowo adalah Mbah Lintang. Nara sumber tidak mengetahui persis kapan dan asal usulnya dari mana. Setelah hutan tersebut jadi sebuah dukuh,  Mbah Lintang menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Mbah Kuwu. Dengan kegigihannya, Mbah Lintang dan Mbah Kuwu saling bahu membahu membuka hutan dijadikan ladang dan pedukuhan. Setelah dirasa cukup usia, Mbah Kuwu menikah dan mempunyai anak yang diberi nama Mbah Agung.
   Setelah Mbah Agung beranjak dewasa, beliau membuat sebuah petilasan yang berbentuk  mirip seperti lumpang terbuat dari yang dipahat dengan rapi dan indah. Hal ini membuktikan bahwa sejak jaman dahulu, nenak moyang sudah mempunyai keahlian dan jiwa seni yang tinggi dengan dibuktikan  adanya bangunan semacam itu.  Bangunan itu sekarang diberi nama petilasan Batu Lenjing/ Lingga yoni.  Sampai sekarang bangunan tersebut masih dikeramatkan.
   Pada suatu masa, rakyat di pedukuhan Parakandowo ingin membuktikan keramatnya Batu Lenjing. Menurut nara sumber,  batu itu dibuang oleh warga setempat ke dasar jurang untuk membuktikan apakah batu itu ada mukjizatnya apakah tidak. Ternyata setelah dibuang, batu itu dengan sangat ajaib kembali lagi ke tempat asalnya sampai sekarang. Bertempat di Dukuh Parakandowo,  tepatnya berada di belakang rumah penduduk. Setelah kejadian itu, antara Mbah Lintang , Mbah Kuwu dan Mbah Agung memberikan wejangan kepada warga masyarakat untuk tidak membuang batu itu lagi dan untuk merawatnya .
   Sebelum ketiganya wafat, mereka berpesan apa bila ada peziarah yang ingin membuktikan keramatnya batu tersebut, orang tersebut berhati bersih dan tidak sembarangan di tempat itu.
   Mbah Kuwu dan Mbah Agung wafat di Dukuh Parakandowo dan meninggalkan petilasan  yang berbentuk batu lumpang yang lebih dikenal dengan nama Batu Lenjing yang sampai sekarang masih sering dikunjungi peziarah.
   Peziarah yang datang ke tempat itu bukan dari warga setempat, tapi juga warga dari luar  Kecamatan Lebakbarang. Bagi peziarah mempunyai suatu keinginan, terkait dengan rejeki, jabatan, keselamatann,  jodoh dan sebagainya. Dengan lantaran wasilah ke tempat tersebut dan melalui seorang juru kunci,  yang memintakan izin terlebih dahulu kepada yang bahurekso petilasan tersebut. Kadang kala ada peziarah yang tidak mampu untuk mengangkat batu yang terdapat di tengah lubang lingga yoni tersebut. Hal tersebut menandakan dia tidak mendapat restu. Apabila peziarah mampu mengangkat batu yang terdapat di tengah lingga yoni tersebut,  berati dia mendapat izin dari yang bahurekso.

Konon, cepat atau lambat keinginanya akan terkabul, selama dia bermaksud yang baik dan hati yang bersih. Petilasan Batu Lenjing diperkirakan sudah berusia seribu tahunan.
  Demikian cerita singkat mengenai sejarah asal muasal Batu Lenjing dan Dukuh Parakandowo Desa Sodomulyo Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan sebagaimana dituturkan langsung dari juru kunci petilasan tersebut.

Lebakbarang, 16 Mei 2013























Bangunan batu berbentuk sebuah balok panjang yang terletak di sebuah tempat seperti meja yang berlubang. Balok batu yang menyerupai lesung tersebut dikenal sebagai lingga, bentuk ini merupakan simbol alat kelamin laki-laki. Sedangkan batu berbentuk meja atau menyerupai lumpang dikenal sebagai yoni, bentuk ini merupakan simbol alat kelamin perempuan. Persatuan antara lingga dan yoni melambangkan kesuburan. Dalam mitologi Hindu, yoni merupakan penggambaran dari Dewi Uma yang merupakan salah satu sakti (istri) Siwa. Yoni adalah landasan lingga yang melambangkan kelamin wanita. Pada permukaan yoni terdapat sebuah lubang berbentuk segi empat di bagian tengah – untuk meletakkan lingga – yang dihubungkan dengan kehadiran candi. Yoni merupakan bagian dari bangunan suci dan ditempatkan di bagian tengah ruangan suatu bangunan suci. Yoni biasanya dipergunakan sebagai dasar arca atau lingga. Berdasarkan konsep pemikiran Hindu, Yoni adalah indikator arah letak candi.

13.5.13

Taman

Sebuah gubug di tengah Sawah Desa Lebakbarang, 
rumah dikelilingi taman alami
Sampai tempat kerja pagi ini, dapat kabar kalau survey pasar desa tidak jadi dilaksanakan hari ini. Pak Sardana menerima pemberitahuan tersebut dari Pak Budiono melalui telepon. Ini membawa keuntungan, berarti saya bisa mengatur waktu pulang kerja. Masih dipikirkan dan belum ketemu solusinya : dengan waktu tempuh dari rumah ke kantor sekitar satu jam, sebelum jum’atan harus jemput anak di sekolah. Tanpa tergantung waktu selesainya survey, kemungkinan acara jemput anak dapat terlaksana.

Pak bos hari itu tidak bisa ke ruang kerjanya karena masih sakit. Acara senam belum juga dimulai, sementara panas matahari makin bertambah. Setengan jam lagi ada rapat di aula. Okelah, kita senam dulu. Walaupun saya kesulitan untuk menyesuaikan gerakan dari instrukturnya. Kurang dari setengah jam berrlalu, kaki sudah mulai pegel-pegel juga. Sambil senam masih kepikiran rapat hari Rabu kemarin.

Mengundang kepala desa, organisasi masyarakat, usahawan di tingkat kecamatan pak Bos bermaksud untuk membangun taman di sepanjang pinggir jalan masuk kota kecamatan. Dari awal saya kurang optimis untuk pembangunan taman di pinggir jalan. Keberlanjutan dan pemeliharaan taman menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi saya, mengaca beberapa tempat yang sudah pernah membangun taman di pingggir jalan apalagi masalah pendanaan yang harus ditanggung masing-masing instansi. Belum lagi, saya pikir lahan yang akan dipakai terlalu sempit. Badan jalan akan semakin sesak karena bahu jalan dijadikan taman. Dalam rapat tersebut, ketika saya diperintahkan untuk membentuk tim pelaksana pembangunan taman saya sampaikan pemikiran saya tersebut.

Maaf bos, saya terpaksa menyampaikan dalam forum tersebut, karena peserta rapat diminat kesepakatan. Saya rasakan kesepakatan itu masih dengan setengah hati. Ya, setengah hati.. ketika bapak menanyakan kesepakatan tersebut sampai diulang dua kali. Sebelumnya, juga ada pesimisme yang terungkap halus yang saya rasakan dari pertanyaan dari wakil ormas. Terasa lega setelah saya menyampaikan pemikiran itu, selama rapat pikiran terpendam dan sebenarnya tidak akan saya omongkan. Karena ada kesempatan, sekalian saya ungkapkan. Mungkin bagi sebagian orang menganggap tindakan saya kurang tepat.

Bukan bermaksud tidak setuju untuk membuat kota menjadi lebih indah, tapi saya coba mengartikan taman tersebut lebih luas diartikan. Untuk membuat lebih indah saya pikir tidak hanya pinggir jalan dibuat taman, tapi satu desa kita buat lebih indah. Jadikan seluruh wilayah ini ibarat taman : hijau, bersih, rapi tapi tetap alami. Taman dengan kontruksi/ bangunan di pinggir jalan menurut saya justru akan mengganggu lalu lintas. Dari yang arti taman dalam arti sempit dan berjangka pendek ini, saya berpikir kenapa tidak diperluas dan bila mungkin tanaman budaya bersih dalam masyarakatnya. Karena membuat satu desa menjadi sebuah taman alami dibutuhkan peran serta masyarakatnya.
Tapi pendapat yang berbeda tersebut justru membuat peserta rapat menunjuk saya untuk mengetuai tim pembuatan taman.

Setelah senam selesai, saya akan jalan-jalan sepanjang jalan masuk kota kecamatan, sambil dokumentasi dan identifikassi kemungkinan pembuatan taman pinggir jalan.

Jembatan Kaliwadas,
pertanda kita segera masuk wilayah kota
Dari jalan-jalan tersebut, saya menyimpulkan bahwa wilayah ini adalah sebenarnya adalah sebuah taman besar. Keadaan alam yang masih bagus ini, kalau dirapikan lagi akan menjadi sebuah taman alamiah. Saya berjalan di taman besar yang kurang terawat saat ini, jadi tidak usah menambahkan taman buatan. Sudah ada taman, tinggal perawatannya yang perlu kita kerjakan.

Oh ya, saya juga sempat usul untuk mengadakan kerja bhakti atau “gugur gunung” untuk melakukan kebersihan/ perapian sepanjang jalan tersebut. Sayang saat itu, belum dapat tanggapan dari pak bos. Dari hasil jalan-jalan ini saya semakin yakin kalau “gugur gunung” tersebut dilaksanakan, akan mengembalikan pesona taman alam di sapanjang jalan ini. Dengan melibatkan warga, diharapkan rasa tanggung jawab menjaga taman atau lebih tepatnya lingkungan akan mulai tertanam seluruh warga.  

Ada oleh-oleh lain yang bisa saya bawa pulang dari perjalanan ini, anggrek. Saya mendapatkan anggrek liar tersebut menepel pada batang pohon kopi di pinggir jalan. Ketika akan mengambil gambar melalui kamera, saya sekilas melihat bunga putih yang ternyata anggrek, maka saya adopsi anggrek liar itu. Anggrek tersebut akan saya tambahkan di taman depan rumahku. Kalau di tempat asalnya menumpang pada tanaman kopi, di taman rumah menempel di pohon kamboja.

Tak terasa sampai kantor sudah lewat jamm 11, harus segera turun gunung. Jemput anak dan mengantar penghuni baru taman depan ke rumah barunya.


Lebakbarang, 10 Mei 2013
Taman depan rumahku

9.5.13

Ora Usah ngUdut (Maneh)

Setelah sekitar empat tahun kambuh menjadi seorang perokok, keinginan untuk menghentikan kebiasaan itu mulai muncul lagi.

Rokok sudah menjadi kebiasaan pada waktu SMA. Hampir tiap hari sebatang rokok diisap kala itu. Menginjak kuliah, sempat berhenti satu tahunan. Kemudian mulai merokok lagi walaupun tidak tiap hari. Tahun terakhir kuliah, kebiasaan merokok kian bertambah. Sehari minimal menghisap tiga batang. 

Setelah bekerja kebiasaan merokok masih berlanjut. Kadang beberapa waktu kebiasaan tersebut berhenti, itu terjadi biasanya lagi sakit saja. Sampai kemudian saya bekerja di daerah pegunungan yang sejuk bahkan boleh dibilang cenderung dingin. Seolah mendapat pasangan yang pas, kebiasaan merokok dengan suasana kerja. Cuaca yang sering hujan dan dingin dengan kebiasaan merokok. Ya, merokok menjadi teman yang hangat kala seperti itu. 

Berkunjung ke desa-desa, bertemu dengan beberapa orang, membuat kebiasaan ini susah untuk ditinggalkan. Bertemu teman, bertemu saudara apalagi mengobrol di malam hari, serasa tidak lengkap tanpa menghisap rokok.

Dari seorang yang dulu tidak harus tiap hari merokok, perlahan menjadi seorang yang tiap hari harus merokok. Ada yang kurang kalau belum menghisap rokok. Kata orang sudah kecanduan rokok. Entah karena nikotin, atau karena rasa yang lain yang pasti untuk melepas kebiasaan tersebut sangatlah sulit.

Suatu ketika setelah sekitar satu tahun bekerja di daerah pegunungan, saya terkena flu. Merokok tidak nikmat, di mulut terasa pahit. Maka dengan terpaksa, saya tidak merokok karena kehilangan kenikmatan. Setelah seminggu badan sudah baikan, saya masih belum merokok lagi. Bahkan, saat itu sudah seperti melupakan kebiasaan itu. Di lingkungan kantor saya saat itu memang jumlah perokoknya sedikit. 

Saya mulai menanamkan niat untuk berhenti merokok. Dengan suasana dan lingkungan yang mendukung, sampai sekitar enam bulan saya berhenti merokok.

Kemudian saya pindah tempat kerja. Kali ini dekat dari rumah, akan tetapi dengan beban kerja yang lebih banyak. Genap satu tahun saya berhenti merokok, permasalahan pekerjaan menjadi godaan yang luar biasa. Di lingkungan kerja yang baru ini, boleh dibilang saya berada di lingkungan yang mayoritas perokok. Suasana dan lingkungan baru, menggoda saya untuk menjadi perokok lagi. 

Selama satu tahun, ketika saya merenovasi rumah, kebiasaan merokok yang hal yang wajib. Mengawasi pekerjaan, ngobrol dengan tukang, berburu inspirasi dan material sambil menjepit sebatang rokok di jari. istri dan anak-anak memprotes kebiasaan ini. Terutama anak-anak, apabila kalau ada iklan layanan masyarakat di radio. "Yah, rokok itu katanya racun. Bisa membunuh", mereka menirukan iklan tersebut. Saya hanya mengiyakan. Saat itu belum ada keinginan untuk berhenti merokok, walaupun saya janji kalau rumah sudah selesai akan berhenti merokok. Sampai rumah sudah saya tempati lagi, saya masih belum ada hasrat berhenti merokok. Sampai saat ini ( kalau boleh dibilang di bulan April 2013) saya menjadi perokok.

Sekitar lima bulan lalu, saya kembali bekerja di daerah pegunungan. Tempat empat tahun lalu saya bekerja. Tentang kebiasaan merokok saya, masih berjalan seperti biasa.

Teringat dengan janji saya kepada anak-anak, bahkan mereka bilang kalau lihat saya merokok saya akan didenda sepuluh ribu rupiah. Ya, saya hutang kepada mereka. Janji adalah hutang, kata orang. Lebih dari itu, saya telah merugikan mereka dengan asap rokok yang secara tidak sengaja mereka hisap. Atau uang yang saya keluarkan untuk rokok, sebenarnya bisa mereka nikmati untuk sekolah atau kesenangan anak-anak.

Dorongan untuk berhenti merokok mulai menyeruak ke dalam pemikiran saya. Memasuki bulan Mei, ketika dalam bungkus rokok saya tersisa dua batang rokok Djisamsu Premium. Yang saya hisap sebatang, kemudian sebatang terakhir saya berikan kepada teman. Saya bilang dalam hati, ini rokok terakhir yang saya hisap.

Ternyata, entah kenapa saya merasa butuh moment untuk mengingat waktu saya berniat. Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional saya jadikan pengingat waktu berhenti merokok, karena hari itu paling dekat waktunya. Dalam perjalanan saya pulang dari kantor, tanggal 2 Mei 2013. Kebetulan juga hari itu, dalam upacara peringatannya saya harus menjadi pembina upacara. Di atas motor, menyusuri jalan pegunungan, niat untuk berhenti merokok semakin kuat.  

Jalan masih jauh untuk lepas dari godaan untuk merokok. Sesulit jalan yang harus kulewati ke tempat kerja, naik turun dan rusak. Mudah-mudahan niat ini berhasil.

Lebakbarang, Mei 2013

Suara yang Menenangkan

Kerinduan pada suara kicau burung deruk ( derkuku ) akhir berujung keinginan untuk menjadikan burung ini sebagai salah anggota penghuni rumah kami. Saya berharap kicau atau "manggung" (istilah yang dipakai khusus untuk burung perkutut) dari burung ini menjadikan tambah bebunyian di rumah.

Suaranya yang merdu, sederhana, tidak berisik dan yang pasti setiap mendengarkan manggungnya terasa nyaman & menenangkan pikiran. Walaupun tidak setenar ( kalah gengsi ) dibanding burung perkutut, burung ini ada sedikit kemiripan dari bentuk fisiknya. Karena kelasnya di bawah burung perkutut, burung ini di pasaran harganya lebih murah. Di alam liar juga lebih mudah ditemui dibanding burung perkutut.

Di alam liar, saya kadang masih menjumpai burung ini di kebun atau sawah yang jauh dari pemukiman. Di rumah, sebagai burung peliharaan dahulu sering dijumpai di rumah sederhana. Mungkin karena pemilik rumah tidak kesampaian untuk memiliki burung perkutut yang gengsinya lebih tinggi sehingga memilih memelihara burung ini, untuk sementara.

Dahulu ketika awal-awal kami menempati rumah ini, kebun di depan rumah yang berada di seberang saluran air masih banyak pepohonan tinggi. Di pinggir kebun banyak pohon kelapa, dan di tengah kebun tedapat bermacam-macam pohon keras. Sering kami mendengar kicauan burung dari kebun tersebut, salah satunya manggungnya si deruk. 

Sekarang di kebun tersebut tidak menyisakan pohon kelapa, dan kebun hanya terisi ilalang dan pohon sengon yang tidak terawat. Burung deruk pun enggan mampir di kebun terrsebut.

Karena alasan ekonomis, romantisme masa kecil, yang lebih mudah diperoleh serta dipelihara kami memutuskan untuk memeliharanya.
Walaupun tidak seindah dan sebebasnya kicau dari kebun seperti waktu dulu, kicauan dari dalam sangkar merah mengobati kerrinduan ini.

Kuk, geruk.....


1.5.13

Mengapa dan Untuk apa kita semua menyekolahkan anak ???

Pendidikan/Sekolah yang baik itu adalah untuk mempersiapkan anak siap menghadapi kehidupan nyata.
Kapanpun dia tidak bisa melanjutkan lagi ke jenjang yang lebih tinggi.
Dan bukan hanya untuk mempersiapkan jenjang lanjutan pendidikan berikutnya mulai SD ke SMP dst hingga S1 untuk S3.
Itulah mengapa sering kali lulusan sebuah sekolah tidak mengerti apa-apa tentang kehidupan dan bagaimana hidup dengan benar. 
Hingga akhirnya kita melahirkan sebuah generasi yang menghancurkan kehidupan di bumi dan bumi itu sendiri. 
Generasi yang hanya bisa saling bertikai dan mengeksploitasi antar sesama penduduk bumi.


-AS Neil-