16.11.13

Sikunir dan Kendalisodo

Puncak Sikunir
Jumat, 15 Nopember, menjelang siang, gerimis mulai turun ketika saya mulai packing. Keputusan sudah bulat, tekad menguat. Jam satu siang, naik motor meninggalkan rumah menuju meeting point, Petungkriyono.
Baru sampai Pododadi, Karanganyar hujan turun sangat lebat. Jas hujan segera saya pakai, sepatu dilepas berganti sandal jepit. Hujan mulai reda ketika memasuki wilayah Doro.

Ini merupakan perjalanan ke Petungkriyono dengan bersepeda motor. Lepas dari Pasar Doro, hutan karet menjadi teman di perjalanan. Jalanan mulai terasa menanjak. Sampai di persimpangan, ke kiri ke arah Jolototigo ke kanan arah Petungkriyono. Dari gerbang bertulis "Selamat Datang Ekowisata Petungkriyono" kita mulai memasuki rimba yang masih alami. Pohon pohon berukuran besar, suara hewan bersautan, serasa memasuki rimba raya.

Jalanan menanjak dengan tikungan tajam apalagi basah, membuat saya ekstra hati-hati. Beberapa kali saya melihat air terjun dari jalan. Betul-betul masih asli, kondisi alam di Petungkriyono.

Sampai di Petungkriyono, ternyata ada perubahan rencana tujuan perjalanan. Semula akan mendaki Gunung Perbota (Petungkriyono, Pekalongan) akhirnya dirubah menjadi menuju Gunung Sikunir, Dieng. Perubahan ini disebabkan kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan pendakian di Gunung Perbota, gunung yang katanya masih sangat jarang dijamah manusia.

Akhirnya, rombongan sebanyak 8 orang menuju Dieng. Melewati Candi Gatotkaca, rombongan mampir sejenak sambil istirahat. Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Sembungan, base camp menuju puncak Sikunir. Sekitar jam lima sore kami sampai di Sembungan, konon desa ini merupakan yang tertinggi di Pulau Jawa.

Desa Sembungan, desa yang masyarakatnya yang hidup makmur. Hidup dari pertanian sayur, kentang menjadi andalannya. Di desa ini juga terdapat Telaga Cebong, yang sekaligus menjadi tempat parkir bagi pengunjung yang kan menuju puncak Sikunir.

Pukul tujuh malam, kami mulai mendaki menuju puncak Sikunir. Jalur yang dilalui melewati ladang penduduk, jalanan berbatu yang agak licin. Jalur disini termasuk lebar. Perjalanan memekan waktu setengah jam, kami sampai di puncak. 
Telaga Cebong

Pemandangan dari Puncak Sikunir
Kami adalah rombongan pertama yang sampai puncak malam itu. Cuaca cukup cerah ketika kami mendirikan tenda. namun sekitar jam sembilan malam mulai turun hujan.

Menjelang subuh, cuaca cerah. Langit biru, membawa harapan untuk menjumpai golden sunrise. Namun seiring berjalan waktu, kabut dan awan mulai menutup langit yang cerah. Saat terbitnya matahari dari puncak Sikunir tidak bisa saya nikmati saat itu. Langit agak cerah baru ketika matahari sudah agak tinggi.

Sekitar jam tujuh, kami mulai meninggalkan puncak. Tidak sampai setengah jam, kami sudah sampai di tepi Telaga Cebong lagi. Setelah dibicarakan, perjalanan pulang ke Petungkriyono sekaligus mampir di Gunung Kendalisodo. Ini gunung di Kabupaten Pekalongan pertama yang akan saya sambangi.

Sekitar jam 11 siang, kami sampai di Dusun Glidikan, Desa Tlogohendro. Dari dusun dengan ketinggian sekitar 1.450 mdpl ini jalur pendakian Gunung Kendalisodo dimulai.

Diawali jalur berupa jalan setapak di antara hutan pinus dan ladang rumput gajah, jalur relatif sempit. Selepas ladang rumput gajah, hutan yang relatif lebat menyambut. Jalur yang sempit,di sebelih kiri berupa tebing dan di sebelah kanan jalur berupa jurang yang dalam. Melangkah dengan hati-hati menjadi panduan keselamatan. Di beberapa titik kita harus merambat di jalur berbatu untuk melangkah.

Sebelum puncak terdapat tempat yang sering digunakan orang untuk semedi. Pertapaan Kendalisodo, demikian warga menyebut tempat ini. Di tempat tersebut banyak terdapat sajen, kendi-kendi yang ditinggalkan. Konon tempat ini dipakai dalang-dalang yang ingin laris.

Setelah berjalan sekitar 45 menit, kami sampai puncak Gunung Kendalisodo. Puncak Hanuman, nama lain untuk tempat ini. Puncak berupa dataran yang tidak terlalu luas. Berada di ketinggian 1.697 mdpl, banyak terdapat batu batu lempeng.

Sayang awan menutupi pemandangan kami dari puncak. Berada di puncak ini bisa melihat beberapa desa dan gunung yang ada di Petungkriyono. Setelah cukup beristirahat, kami melangkah meninggalkan puncak Hanuman.

Sabtu, 16 Nopember menyambangi dua puncak gunung. Cuaca tidak mendukung karena memang musim penghujan. Di lain waktu, masih berharap mendapati cerah di puncak-puncak gunung.
Puncak Hanuman, puncak Gunung Kendalisodo
Lapangan di Dusun Glidikan, Desa Tlogohendro

2 comments: